Rabu, 15 Februari 2012

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Aceh Triwulan IV-2011




PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas tercatat sebesar 4,4%, atau mengalami perlambatan dibanding triwulan lalu yang sebesar 4,72%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Aceh selama tahun 2011 dengan migas tercatat tumbuh sebesar 5,02%, jauh meningkat dibanding tahun 2010 lalu yang sebesar 2,79%.

Seluruh sektor ekonomi pada triwulan IV-2011 tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Peningkatan pertumbuhan pada triwulan IV-2011 hanya terjadi di sektor pertanian dan sektor jasa-jasa sementara sektor lainnya tumbuh melambat.

Untuk akumulasi tahun 2011, seluruh sektor ekonomi tumbuh positif dengan pertumbuhan yang relatif stagnan di sektor-sektor primer.

Dari sisi penggunaan, baik pada triwulan IV-2011 maupun secara keseluruhan tahun 2011, pertumbuhan positif juga terjadi di seluruh komponen kecuali ekspor yang tercatat mengalami koreksi cukup dalam.


PERKEMBANGAN INFLASI

Pada Desember 2011, inflasi[1] tahunan Aceh tercapai di angka 3,43%, jauh lebih rendah dibanding inflasi Desember 2010 yang sebesar 5,86%.

Penurunan tekanan inflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan dan cukup stabilnya harga cabe merah yang tahun lalu menjadi penyebab rapor merah pada inflasi Desember 2010.


PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Kinerja perbankan Aceh pada Desember 2011 masih baik. Trending indikator pokok masih menunjukkan pertumbuhan positif kendati mengalami perlambatan. Kinerja perbankan syariah di Aceh menunjukkan pertumbuhan positif baik secara tahunan maupun triwulanan. Peningkatan aset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh. Refinancing risk lebih terekspos pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional terutama terkait dengan spread yang terbentuk dari penhimpunan DPK dan tingkat LDR. Selama tahun 2011, sistem pembayaran non tunai di Aceh baik menggunakan sistem BI-RTGS maupun kliring tercatat mengalami pertumbuhan negatif bila dibandingkan dengan transaksi selama tahun 2010 lalu. Mencermati penurunan tersebut cukup menguatkan hipotesis bahwa perekonomian Aceh sedikit mengalami kelesuan di tahun 2011.
Triwulan IV-2011, aliran uang kartal masih menunjukkan net outflow seiring dengan pola uptrend di penghujung tahun pada satu periode karena meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat.


PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ACEH

Kondisi Ketenagakerjaan terus menunjukkan perbaikan. Pada bulan Agustus 2011, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tercatat 7,43% sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 63,78%.

Menurut lapangan pekerjaan utama, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dimana jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 898,2 ribu jiwa.

Sementara menurut status pekerjaan utama, tenaga kerja masih didominasi oleh tenaga kerja berstatus buruh/ karyawan (30,27).

Tingkat kemiskinan[2] di Aceh terus menunjukkan penurunan meski tipis. Dari 19,57% pada Maret 2011 menjadi 19,48% pada September 2011. Namun angka ini masih jauh diatas nasional yang sebesar 12,36% per September 2011.

Kualitas kemiskinan Aceh juga membaik yang ditunjukkan oleh Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 3,483 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,936 pada September 2011.


PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI & INFLASI ACEH

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan I-2012 diperkirakan tumbuh moderat cenderung meningkat di kisaran 4,5%-4,76%.
Jatuhnya musim panen raya diperkirakan akan melonggarkan tekanan inflasi Aceh, meski masih tetap ada potensi kenaikan harga ikan segar, maka pada Maret 2012 inflasi Aceh diperkirakan akan berada di kisaran 2,65%-3,65% dengan kecenderungan mencapai batas bawah.


SUMBER DATA : TIM EKONOMI MONETER KBI BANDA ACEH, 8-02-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar