Minggu, 19 Februari 2012

Aceh Nomor Satu Termiskin Di Sumatera




Berbicara masalah daerah tertinggal,maka tidak akan lepas dari masalah kemiskinan. Sebut saja Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) salah satunya. Daerah yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah tersebut, ternyata tidak luput pula dari masalah kemiskinan dan ketertinggalan.

Menurut data persentase dan penelitian yang dilakukan oleh BPS Aceh, Persentase penduduk miskin di Aceh pada September 2011 sebesar 19,48 persen mengalami penurunan dibandingkan Maret 2011 sebesar 19,57 persen (data tersebut diperoleh BPS Aceh).

Dalam ulasan data tersebut, persentase penduduk miskin didaerah perkotaan menurun sebesar 0,66 persen, sementara di daerah pedesaan terjadi peningkatan sebesar 0,14 persen. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi perekonomian Aceh, Indeks Harga Konsumen, tingkat pengangguran terbuka dan Nilai Tukar Petani.

Di Pulau Sumatera, Provinsi Aceh merupakan pemegang predikat provinsi nomor satu paling miskin dibandingkan diantara provinsi lainnya. Bahkan secara nasional penduduk miskin paling banyak masih di Pulau Jawa dan Sumatera, baru kemudian menyusul Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Bali.

Menurut Hasil analisis yang dilakukan The Globe Journal dari Badan Pusat Statitsik menyebutkan jumlah penduduk miskin selama enam bulan di Aceh bertambah. Pada Maret 2011, jumlah penduduk miskin sebanyak 894.081 orang dan pada September 2011 meningkat menjadi 900.019 orang. Orang miskin di Aceh pada September 2011 paling banyak berada di pedesaan yaitu sebanyak 730.890 orang dibandingkan di perkotaan hanya 169.300 orang.

Untuk mengukur angka kemiskinan ini, BPS Aceh menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dan sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur dari sisi pengeluarannya.

Dengan pendekatan ini maka dapat dihitung persentase penduduk miskin terhadap total penduduk Aceh.



sumber data : BPS Provinsi Nangroe Aceh Darussalam

Rabu, 15 Februari 2012

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Aceh Triwulan IV-2011




PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas tercatat sebesar 4,4%, atau mengalami perlambatan dibanding triwulan lalu yang sebesar 4,72%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Aceh selama tahun 2011 dengan migas tercatat tumbuh sebesar 5,02%, jauh meningkat dibanding tahun 2010 lalu yang sebesar 2,79%.

Seluruh sektor ekonomi pada triwulan IV-2011 tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Peningkatan pertumbuhan pada triwulan IV-2011 hanya terjadi di sektor pertanian dan sektor jasa-jasa sementara sektor lainnya tumbuh melambat.

Untuk akumulasi tahun 2011, seluruh sektor ekonomi tumbuh positif dengan pertumbuhan yang relatif stagnan di sektor-sektor primer.

Dari sisi penggunaan, baik pada triwulan IV-2011 maupun secara keseluruhan tahun 2011, pertumbuhan positif juga terjadi di seluruh komponen kecuali ekspor yang tercatat mengalami koreksi cukup dalam.


PERKEMBANGAN INFLASI

Pada Desember 2011, inflasi[1] tahunan Aceh tercapai di angka 3,43%, jauh lebih rendah dibanding inflasi Desember 2010 yang sebesar 5,86%.

Penurunan tekanan inflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan dan cukup stabilnya harga cabe merah yang tahun lalu menjadi penyebab rapor merah pada inflasi Desember 2010.


PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Kinerja perbankan Aceh pada Desember 2011 masih baik. Trending indikator pokok masih menunjukkan pertumbuhan positif kendati mengalami perlambatan. Kinerja perbankan syariah di Aceh menunjukkan pertumbuhan positif baik secara tahunan maupun triwulanan. Peningkatan aset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh. Refinancing risk lebih terekspos pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional terutama terkait dengan spread yang terbentuk dari penhimpunan DPK dan tingkat LDR. Selama tahun 2011, sistem pembayaran non tunai di Aceh baik menggunakan sistem BI-RTGS maupun kliring tercatat mengalami pertumbuhan negatif bila dibandingkan dengan transaksi selama tahun 2010 lalu. Mencermati penurunan tersebut cukup menguatkan hipotesis bahwa perekonomian Aceh sedikit mengalami kelesuan di tahun 2011.
Triwulan IV-2011, aliran uang kartal masih menunjukkan net outflow seiring dengan pola uptrend di penghujung tahun pada satu periode karena meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat.


PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ACEH

Kondisi Ketenagakerjaan terus menunjukkan perbaikan. Pada bulan Agustus 2011, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tercatat 7,43% sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 63,78%.

Menurut lapangan pekerjaan utama, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dimana jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 898,2 ribu jiwa.

Sementara menurut status pekerjaan utama, tenaga kerja masih didominasi oleh tenaga kerja berstatus buruh/ karyawan (30,27).

Tingkat kemiskinan[2] di Aceh terus menunjukkan penurunan meski tipis. Dari 19,57% pada Maret 2011 menjadi 19,48% pada September 2011. Namun angka ini masih jauh diatas nasional yang sebesar 12,36% per September 2011.

Kualitas kemiskinan Aceh juga membaik yang ditunjukkan oleh Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 3,483 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,936 pada September 2011.


PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI & INFLASI ACEH

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan I-2012 diperkirakan tumbuh moderat cenderung meningkat di kisaran 4,5%-4,76%.
Jatuhnya musim panen raya diperkirakan akan melonggarkan tekanan inflasi Aceh, meski masih tetap ada potensi kenaikan harga ikan segar, maka pada Maret 2012 inflasi Aceh diperkirakan akan berada di kisaran 2,65%-3,65% dengan kecenderungan mencapai batas bawah.


SUMBER DATA : TIM EKONOMI MONETER KBI BANDA ACEH, 8-02-2012

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Aceh Triwulan III-2011



Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas tercatat sebesar 5,03%,atau mengalami perlambatan dibanding triwulan lalu yang sebesar 5,47%. Sementara itu, bila ditilik secara triwulanan, ekonomi Aceh dengan migas tercatat tumbuh sebesar 1,43%, meningkat dibanding triwulan lalu yang sebesar 1,32%. Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang positif meski disana sini terlihat stagnan dan cenderung melambat bila dibandingkan dengan triwulan lalu. Sektor Pertanian sebagai kontributor terbesar pada PDRB Aceh juga tumbuh moderat sebesar 4,36% atau tumbuh melambat sebesar 0,94% secara triwulanan karena masih musim tanam.

Sementara dari sisi penggunaan, pertumbuhan positif juga terjadi di seluruh komponen. Selama triwulan III-2011, inflasi tahunan Aceh kembali melonjak. Menurut Berita Resmi Statistik (BRS) inflasi yang dirilis oleh BPS Aceh, inflasi tahunan Aceh berturut-turut adalah sebesar 5,16%; 6,94% dan 6,98%. Tekanan inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga sandang (pakaian dan lain-lain), emas perhiasan, beras, ikan-ikanan segar dan cabe merah. Penyebab utama kenaikan harga adalah event Ramadhan dan Idul Fitri, dimana terjadi peningkatan permintaan yang meski pasokan memadai tetap menjadi momen yang dimanfaatkan untuk menaikkan harga. Kenaikan harga beras lebih disebabkan oleh mulainya musim tanam padi. Sementara kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh lonjakan harga emas dunia.

Kinerja perbankan Aceh pada triwulan III-2011 cukup baik. Trending indikator pokok masih menunjukkan pertumbuhan positif kendati mengalami perlambatan. Kinerja perbankan syariah di Aceh menunjukkan pertumbuhan positif cenderung flat, baik secara tahunan maupun triwulanan.Peningkatan asset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh.

Refinancing risk lebih terekspos pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional terutama terkait dengan spread yang terbentuk dari penhimpunan DPK dan tingkat LDR. Transaksi pembayaran non tunai hingga akhir triwulan III-2011 dengan menggunakan sistem BI-RTGS mengalami penurunan terbatas, sedangkan transaksi melalui kliring mengalami peningkatan signifikan, baik secara nominal maupun volume. Triwulan III-2011, aliran uang kartal masih menunjukkan net outflow seiring dengan pola uptrend menuju penghujung tahun pada satu periode seiring dengan meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat. Realisasi APBA hingga triwulan III tahun 2011 baru mencapai 49,45% atau sebesar Rp3,94T dari total pagu anggaran sebesar Rp7,97T.

Kepastian situasi politik dan keamanan tetap menjadi faktor utama terhadap kelangsungan berjalannya pembangunan. Kondisi Ketenagakerjaan terus menunjukkan perbaikan. Pada bulan Februari 2011, TPT Aceh tercatat 8,27%, sementara TPAK juga menunjukkan peningkatan menjadi 66,63%. Menurut lapangan pekerjaan utama, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dimana jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 903,4 ribu jiwa.

Sementara menurut status pekerjaan utama, tenaga kerja masih didominasi oleh tenaga kerja berstatus buruh/ karyawan (30,27). Tingkat kemiskinan di Aceh terus menunjukkan penurunan. Dari 20,98% pada Maret 2010 menjadi 19,57% pada Maret 2011. Meski demikian, angka ini masih jauh diatas nasional yang sebesar 12,49%. Kualitas kemiskinan Aceh juga membaik yang ditunjukkan oleh Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 3,5 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,94 pada Maret 2011.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan III-2011 diperkirakan tumbuh melambat di kisaran 4,82%±1% akibat kejar target realisasi proyek-proyek Pemerintah. Tidak adanya perayaan keagamaan yang bisa menjadi stimulus konsumsi, yang berbarengan dengan jatuhnya musim panen gadu diperkirakan akan melonggarkan tekanan inflasi Aceh, meski masih tetap ada potensi kenaikan harga cabe merah dan ikan segar, maka pada triwulan IV-2011 inflasi Aceh diperkirakan akan berada di kisaran 4,6%±1% dengan kecenderungan mencapai batas bawah.


Sumber Data : Tim Ekonomi Moneter KBI Banda Aceh, 9-11-2011.